
Kutangkap langit senja dengan mata berbinar di ujung sana
Menghantarkan suasana magrib dengan lantunan fiman-Nya
Burung-burung berterbangan ingin pulang
Tapi kemana …?
Rumahnya telah luluh dihantam kekuasaan
Makanan nya pun terkikis oleh ketamakan
Sedangkan makanan yang di bawa tak cukup memerdukan kicau anaknya
Yang sejak pagi tadi diterpa kemiskinan
Hujan tak sabar turun dengan rintik harapan
Pujangga yang kertasnya telah dibasahi air mata iba
Tak sanggup membuat sangkar
Apalagi untuk mengajaknya terbang bebas
Sebab sayap tak mungkin abadi
Senja itu merayap hilang
Menyajikan sedih yang berwarna
Berharap burung tak kehilangan kesabaran
Hingga bertengger di tepi jurang
Lalu terjun …
Tak bernyawa …
Doa-doa terus beterbangan di atas senja
Memungut asa yang sejak tadi beradu dengan nasib dan tanda tanya
Apakah esok berjumpa dengan pagi…?